Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : 561 halaman
Kategori : fiksi, novel
Jenis kover : soft cover
Kondisi : baru, segel
Harga : Rp. 80.750 ( Hemat Rp 14.250 )
Berat : 555 gram
Bahasa : Indonesia
RATING
3.98 avg rating – 572 ratings
SINOPSIS
“Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum di depan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu.”
-Pramoedya Ananta Toer
Roman Arok Dedes bukan roman mistika-irasional (kutukan keris Gandring tujuh turunan). Ini adalah roman politik seutuhnya. Berkisah tentang kudeta pertama di Nusantara. Kudeta ala Jawa. Kudeta merangkak dengan banyak tangan untuk kemudian memukul habis dan mengambil bagian kekuasaan sepenuh-penuhnya. Kudeta licik tapi cerdik. Berdarah, tapi para pembunuh yang sejati bertepuk dada mendapati penghormatan yang tinggi. Melibatkan gerakan militer (Gerakan Gandring), menyebarkan syak wasangka dari dalam, memperhadapkan antarkawan, dan memanasi perkubuan. Aktor-aktornya bekerja seperti hantu. Kalaupun gerakannya diketahui, namun tiada bukti yang paling sahih bagi penguasa untuk menyingkirkannya.
Arok adalah simpul dari gabungan antara mesin paramiliter licik dan politisi sipil yang cerdik-rakus (dari kalangan sudra/agrari yang merangkakkan nasib menjadi penguasa tunggal tanah Jawa). Arok tak mesti memperlihatkan tangannya yang berlumur darah mengiringi kejatuhan Tunggul Ametung di bilik Agung Tumapel, karena politik tak selalu identik dengan perang terbuka. Politik adalah permainan catur di atas papan bidak yang butuh kejelian, pancingan, ketegaan melempar umpan-umpan untuk mendapatkan peruntungan besar. Tak ada kawan dan lawan. Yang ada hanya Takhta di mana seluruh hasrat bisa diletupkan sejadi-jadi yang dimau.
Pada akhirnya roman Arok Dedes menggambarkan peta kudeta politik yang kompleks yang “disumbang” Jawa untuk Indonesia.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : - halaman
Kategori : fiksi, novel
Jenis kover : soft cover
Kondisi : baru, segel
Harga : Rp. 42.500 ( Hemat Rp. 7.500 )
Berat : 240 gram
Bahasa : Indonesia
RATING
3.90 avg rating – 1,061 ratings
SINOPSIS
Gadis Pantai lahir dan tumbuh di sebuah kampung nelayan di Jawa Tengah, Kabupaten Rembang. Seorang gadis yang manis. Cukup manis untuk memikat hati seorang pembesar santri setempat, seorang Jawa yang bekerja pada (administrasi) Belanda. Dia mengambil menjadi gundik pembesar tersebut dan menjadi Mas Nganten: perempuan yang melayani kebutuhan seks pembesar sampai kemudian pembesar memutuskan untuk menikah dengan perempuan yang sekelas atau sederajat dengannya.
Mulanya, perkawinan itu memberi prestise baginya di kampung halamannya karena dia dipandang telah dinaikkan derajatnya, menjadi bendoro putri. Tapi itu tidak berlangsung lama. Ia terperosok kembali ke tanah. Orang Jawa yang telah memilikinya, tega membuangnya setelah dia melahirkan seorang bayi perempuan.
Roman ini menusuk feodalisme Jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan tepat langsung di jantungnya yang paling dalam.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : 132 halaman
Kategori : fiksi, novel
Jenis kover : soft cover
Kondisi : baru, segel
Harga : Rp. 27.200 ( Hemat Rp. 4.800 )
Berat : 140 gram
Bahasa : Indonesia
RATING
3.43 avg rating – 296 ratings
SINOPSIS
Midah, pada awalnya berasal dari keluarga terpandang dan beguna. Karena ketidakadilan dalam rumah, ia memilih kabur dan terhempas di tengah jalanan Jakarta tahun 50-an yang ganas. Ia tampil sebagai orang yang tak mudah menyerah dengan nasib hidup, walaupun ia hanya seorang penyanyi dengan panggilan "si manis bergigi emas" dalam kelompok pengamen keliling dari stu resto ke resto, bahkan dari pintu ke pintu rumah warga.
Dalam kondisi hamil berat, Midah memang tampak kelelahan. Tapi manusia tidak boleh menyerah pada kelelahan. Hawa kehidupan jalanan yang liar dan ganas harus diarungi. Dan ujung-ujungnya Midah memang kalah (secara moral) dalam pertarungan hidup itu.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : 94 halaman
Kategori : fiksi, novel
Jenis kover : soft cover
Kondisi : baru, segel
Harga : Rp. 22.100 ( Hemat Rp 3.900 )
Berat : 125 gram
Bahasa : Indonesia
RATING
3.31 avg rating – 486 ratings
SINOPSIS
Cerita Calon Arang bertutur tentang kehidupan seorang perempuan tua yang jahat. Pemilik teluh hitam dan pengisap darah manusia. Ia pongah. Semua-mua lawan “politik”nya dibabatnya. Yang mengkritik dihabisinya. Ia senang menganiaya manusia, membunuh, merampas, dan menyakiti. Ia punya banyak ilmu ajaib untuk membunuh orang…murid-muridnya dipaksa untuk berkeramas dengan darah manusia. Kalau mereka sedang berpesta tak ubahnya dengan sekawanan binatang buas, takut orang melihatnya yang jika ketahuan mengintip orang itu akan diseret di tengah pesta dan dibunuh dan darahnya dipergunakan berkeramas.
Tapi kejahatan ini juga pada akhirnya bisa tumpas di tangan jejari kebaikan dalam sebuah operasi terpadu yang dipimpin oleh Empu Baradah. Empu ini bisa mengembalikan kehidupan masyarakat yang gonjang-ganjing ke jalan yang benar sehingga hidup bisa lebih baik dan lebih tenang, tidak buat permainan segala macam kejahatan.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : 538 halaman
Kategori : fiksi, novel
Jenis kover : soft cover
Kondisi : baru, segel
Harga : Rp. 81.000( Hemat Rp. 9.000 )
Berat : 570 gram
Bahasa : Indonesia
RATING
4,28 avg rating – 1,271 ratings
SINOPSIS
Kehadiran roman sejarah ini, bukan saja dimaksudkan untuk mengisi sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan, namun juga mengisi isu kesusastraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini. Karena itu hadirnya roman ini memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dan dari sisinya yang berbeda.
Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku. Pembagian ini bisa juga kita artikan sebagai pembelahan pergerakan yang hadir dalam beberapa periode.
Roman kedua Tetralogi, Anak Semua Bangsa, adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa. Di titik ini Minke diperhadapkan antara kekaguman yang melimpah-limpah pada peradaban Eropa dan kenyataan selingkungan bangsanya yang kerdil. Sepotong perjalanannya ke Tulangan Sidoarjo dan pertemuannya dengan Khouw Ah Soe, seorang aktivis pergerakan Tionghoa, korespondensinya dengan keluarga Dela Croix (Sarah, Miriam, Herbert), teman Eropanya yang liberal, dan petuah-petuah Nyai Ontosoroh, nertua sekaligus guru agungnya, kesadaran Minke tergugat, tergurah, dan tergugah, bahwa ia adalah bayi semua bangsa dari segala jaman yang harus menulis dalam bahasa bangsanya (Melayu) dan berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : 180 halaman
Kategori : fiksi, novel
Jenis kover : soft cover
Kondisi : buku baru, segel
Harga : Rp. 29.750 ( Hemat Rp. 5.250 )
Berat : 175 gram
Bahasa : Indonesia
RATING
3.41 avg rating – 492 ratings
SINOPSIS
“Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberaniannya tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.”
Roman ini merekam dengan elegan golak revolusi Indonesia pascarevolusi. Tapi bukan dari optik “orang-orang besar dan orang-orang tua”, melainkan seorang perempuan. Larasati namanya. Seorang aktris panggung dan bintang film yang cantik. Dari kisah perjalanan perempuan inilah melela sebuah potret keksatriaan kaum muda merebut hak merdeka dari tangan orang-orang asing.
Tidak hanya merekam kisah-kisah heroik kepahlawanan, namun juga lengkap dengan segala kemunafikan kaum revolusioner, keloyoan, omong banyak tapi kosong dari para pemimpin, pengkhianatan, dan sebenggol-benggol kisah percintaan. Dari sepenggalan perjalanan Ara-dari pedalaman (Yogyakarta) ke daerah pendudukan (Jakarta)-terpotret bagaimana manusia-manusia Republik memandang revolusi.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : 147 halaman
Kategori : fiksi, novel
Jenis kover : soft cover
Kondisi : buku baru, segel
Harga : Rp. 27.000 ( Hemat Rp. 3.000 )
Berat : 185 gram
Bahasa : Indonesia
RATING
3.41 avg rating – 428 ratings
SINOPSIS
Sebuah buku adalah sebuah kesaksian. Dan buku ini adalah kesaksian tentang peristiwa genosida kemanusiaan paling mengerikan di balik pembangunan Jalan Raya Pos atau yang lebih dikenal dengan Jalan Raya Daendels; jalan yang membentang 1000 kilometer sepanjang utara pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Inilah salah satu dari beberapa kisah tragedi kerjapaksa terbesar sepanjang sejarah di Tanah Hindia.
Pramodya Ananta Toer lewat buku ini menuturkan sisi paling kelam pembangunan jalan yang beraspalkan darah dan air mata manusia-manusia Pribumi. Pemeriksaan yang cukup detail dan bercorak tuturan perjalanan ini, membiakkan sebuah ingatan yang satire, bahwa kita adalah bangsa yang kaya tapi lemah. Bangsa yang sejak lama bermental diperintah oleh bangsa-bangsa lain.
Satu lagi buku yang menguak sejarah tragedi terbesar terkoyaknya kita sebagai sebuah bangsa yang kawasannya luas, kaya, tapi selalu kalah dalam segala hal.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : KPG (2011)
Tebal : 140 halaman
Kategori : fiksi,drama
Jenis kover : soft cover
Kondisi : baru, segel
Harga : Rp. 37.800 ( Hemat Rp. 4.200 )
Berat : 180 gram
Bahasa : Indonesia
RATING
3.31 avg rating – 248 ratings
SINOPSIS
Setelah Majapahit runtuh pada 1527, Jawa kacau balau dan bermandi darah. Kekuasaan tak berpusat, tersebar praktis di seluruh kadipaten, kabupaten, bahkan desa. Perang terus menerus terjadi untuk memperebutkan penguasa tunggal. Permata-permata kesenian, baik di bidang sastra, musik dan arsitektur tidak lagi ditemukan. Selama hampir satu abad Jawa dikungkung oleh pemerintahan teror, yang berpolakan tujuan menghalalkan cara.
Salah satu bentuk pemerintahan teror itu diuangkapkan secara jernih dalam buku ini. Panembahan Senapati, Raja Mataram kurun 1575-1607, yang bercita-cita menjadi penguasa tunggal, menundukkan perlawanan gigih penduduk desa Mangir dengan cara kotor dan keji. Wanabaya atau Ki Ageng Mangir, pemimpin desa yang letaknya kurang dari 20 km dari ibukota, dirayu putri kesayangan Senapati, dijebak, dan kemudian dibunuh dalam sebuah pertemuan keluarga.
Buku ini, yang ditulis Pramoedya di Pulau Buru dan sempat hilang selama beberapa tahun, membuka wawasan kita untuk melihat lebih seksama kelemahan dan ketimpangan dari sistem pemerintahan masa lalu, serta pengaruhnya pada masa sekarang.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : KPG (2011)
Tebal : 248 halaman
Kategori : fiksi, novel
Jenis kover : soft cover
Kondisi : baru, segel
Harga : Rp. 43.200 ( Hemat Rp. 4.800 )
Berat : 235 gram
Bahasa : Indonesia
RATING
3,32 avg rating – 329 ratings
SINOPSIS
“…kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang biasa menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu…Surat kepada kalian ini juga semacam pernyataan protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun lewat…”
-Pramoedya Ananta Toer
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : 126 halaman
Kategori : fiksi, novel
Jenis kover : soft cover
Kondisi : baru, segel
Harga : Rp. 24.300 ( Hemat Rp 2.700 )
Berat : 150 gram
Bahasa : Indonesia
RATING
3.36 avg rating – 189 ratings
SINOPSIS
Novel ini merupakan hasil reportase singkat Pramoedya di wilayah Banten selatan yang subur tapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan. Tanah yang subur tapi masyarakatnya miskin, kerdil, tidak berdaya, lumpuh daya kerjanya. Mereka diisap sedemikian rupa. Mereka dipaksa hidup dalam tindihan rasa takut yang memiskinkan.
Tubuh boleh disekap, ditendang, diinjak-injak, tapi semangat hidup tak boleh redup. Menurut Pram, semangat hidup itulah yang membuat seseorang bisa terus hidup dan bekerja. Bertolak dari situ Pram bertekad kuat mengobarkan semangat untuk tidak ongkang-ongkang kaki menanti ajal melumat.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : 104 halaman
Kategori : fiksi, novel
Jenis kover : soft cover
Kondisi : baru, segel
Harga : Rp. 22.500 ( Hemat Rp 2.500 )
Berat : 120 gram
Bahasa : Indonesia
RATING
3.74 avg rating – 411 ratings
SINOPSIS
Roman ini berlangsung dalam satu putaran perjalanan seorang anak revolusi yang pulang kampung karena ayahandanya jatuh sakit. Dari seputaran perjalanan itu terungkap beberapa potong puing gejolak hati yang tak pernah teranggap dalam gebyar-gebyar revolusi.
Dikisahkan bagaimana keperwiraan seorang dalam revolusi pada akhirnya melunak ketika dihadapkan pada kenyataan sehari-hari: ia menemukan ayahnya yang seorang guru yang penuh bakti tergolek sakit karena TBC, anggota keluarganya yang miskin, rumah tuanya yang sudah tidak kuat lagi menahan arus waktu, dan menghadapi istri yang cerewet.
Berpotong-potong kisah itu diungkapkan dengan sisa-sisa kekuatan jiwa yang berenangan dalam jiwa seorang mantan tentara muda revolusi yang idealis. Lewat tuturan sederhana dan fokus, tokoh “aku” dalam roman ini tidak hanya mengritik kekerdilan diri sendiri, tapi juga menunjuk muka para jenderal atau pembesar-pembesar negeri pascakemerdekaan yang hanya asyik mengurus dan memperkaya diri sendiri.
Penulis : Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit : KPG (2006)
Tebal : 264 halaman
Kategori : biografi
Jenis kover : soft cover
Kondisi : bekas, baik
Harga : Rp. 27.500
Berat : 270 gram
Bahasa : Indonesia
RATING
3,44 avg rating – 104 ratings
SINOPSIS
“Saya merasa…sayalah ‘keranjang sampah’ Mas Pram untuk hal-hal yang tidak dapat, tidak tepat, atau tidak pantas dikemukakannya kepada orang lain.”
Maka, jika hal-hal yang bersifat pribadi tersebut diterbitkan, itu semata-mata merupakan ”…pernyataan tanggung jawab saya terhadap pembaca karya-karya Mas Pram, terhadap khlayak Indonesia khususnya, dan dunia umumnya. Saya catat semua ini sebagai kenyataan, bahwa di samping semua yang sudah pernah ataupun sedang ditulis mengenai Mas Pram, masih ada hal-hal lain yang harus dikemukakan…Dengan demikian orang dapat memahami Mas Pram sebagai sosok yang nyata, bukan manusia di angan-angan atau lamunan.”
Demikian tulis Koesalah Soebagyo Toer, adik kandung Pramoedya, penyusun buku ini. Tak pelak lagi, terhimpoun di dalam buku ini banyak kehidupan pribadi Pramoedya yang belum diketahui khalayak.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : - halaman
Kategori : fiksi, novel
Jenis kover : soft cover
Kondisi buku: buku baru, segel
Harga : Rp. 85.500 ( Hemat Rp. 9.500 )
Berat : 585 gram
Bahasa : Indonesia
RATING
4,25 avg rating – 1,175 ratings
SINOPSIS
Kehadiran roman sejarah ini, bukan saja dimaksudkan untuk mengisi sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan, namn juga mengisi isu kesusastraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini. karena itu hadirnya roman ini memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dan dari sisinya yang berbeda.
Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku. pembagian ini bisa juga kita artikan sebagai pembelahan pergerakan yang hadir dalam beberapa periode. Dan roman ketiga ini, Jejak Langkah, adalah fase pengorganisasian perlawanan.
Minke memobilisasi segala daya untuk melawan bercokolnya kekuasaan Hindia yang sudah berabad-abad umurnya. namun Minke tak pilih perlawanan bersenjata. Ia memilih jalan jurnalistik dengan membuat sebanyak-banyaknya bacaan Pribumi. Yang paling terkenal tentu saja Medan Prajaji. Dengan koran ini, Minke bereru-berseru kepada rakyat Pribumi tiga hal: meningkatkan boikot, berorganisasi dan menghapuskan kebudayaan feodalistik. Sekaligus lewat langkah jurnalistik, Minke berseru-seru: 'Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.'
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : 538 halaman
Kategori : fiksi, novel
Jenis kover : soft cover
Kondisi : buku baru, segel
Harga : Rp. 81.000 ( Hemat Rp. 9.000 )
Berat : 570 gram
Bahasa : Indonesia
RATING
4,31 avg rating – 3,174 ratings
SINOPSIS
Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.
Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.
Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu .... Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.
"Kita kalah, Ma," bisikku.
"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : - halaman
Kategori : fiksi, novel
Jenis kover : soft cover
Kondisi: buku baru, segel
Harga : Rp. 81.000 ( Hemat Rp. 13.500 )
Berat : 660 gram
Bahasa : Indonesia
RATING
4,24 avg rating – 1,013
SINOPSIS
Kehadiran roman sejarah ini, bukan saja dimaksudkan untuk mengisi sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan, namun juga mengisi isu kesusastraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini.
Karena itu hadirnya roman ini memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dan dari sisinya yang berbeda. Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku. Dan roman keempat, Rumah Kaca, memperlihatkan usaha kolonial memukul semua kegiatan kaum pergerakan dalam sebuah operasi pengarsipan yang rapi.
Arsip adalah mata radar Hindia yang ditaruh di mana-mana untuk merekam apa pun yang digiatkan aktivis pergerakan itu. Pram dengan cerdas mengistilhkan politik arsip itu sebagai kegiatan pe-rumahkaca-an. Novel besar berbahasa Indonesia yang menguras energi pengarangnya untuk menampilkan embrio Indonesia dalam ragangan negeri kolonial. Sebuah karya pascakolonial paling bergengsi.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : - halaman
Kategori : fiksi, novel
Jenis kover : soft cover
Kondisi buku : buku baru, segel
Harga jual : Rp. 46.750 ( HEMAT Rp. 8.250 )
Berat : 460 gram
Bahasa : Indonesia
SINOPSIS
Biografi ini mengajak mengingat Kartini, tapi bukan dari sudut pandang domestik rumah seperti dia adalah gadis pingitan lalu dinikahkan secara paksa lalu melahirkan lalu mati. Coba singkirkan kenangan itu dan alihkan pikiran pada bagaimana cara Kartini melawan semua itu, melawan kesepian karena pingitan, melawan arus kekuasaan besar melawan penjajahan dan dinding tebal kotak penjara Kabupaten yang menyekapnya bertahun-tahun.
Kartini tidak punya massa, apalagi uang. Uang tidak akrab dengan perempuan hamba seperti Kartini. Yang dipunyai Kartini adalah kepekaan dan keprihatinan dan ia tulislah segala-gala perasaannya yang tertekan itu. Dan hasilnya luar biasa, selain melambungkan nama Kartini, suaranya bisa terdengar sampai jauh, bahkan sampai negeri asal dan akar segala kehancuran manusia pribumi. Pramoedya Ananta Toer merekam semua itu dengan tajam dan penuh pesona yang kemudian membedakannya dengan uraian dan tafsir manapun atas sosok Kartini.
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia
Tebal : 194 halaman
Kategori : non fiksi
Jenis kover : soft cover
Kondisi : baru, segel
Harga : Rp. 31.875 ( Hemat Rp. 5.625 )
Berat : 260 gram
Bahasa : Indonesia
RATING
3,24 avg rating – 62 ratings
SINOPSIS
“Realisme sosialis itu sendiri bukan hanya penanaman satu metode di bidang sastra, tapi lebih tepat dikatakan satu hubungan filsafat, metode penggarapan dengan apresiasi estetiknya sendiri: penanaman satu politik estetik di bidang sastra yang sekaligus juga mencakup kesadaran adanya front, adanya perjuangan, adanya kawan-kawan sebarisan dan lawan-lawan di seberang garis, adanya militansi, adanya orang-orang yang mencoba menghindarkan diri dari front ini untuk memenangkan ketakacuhan.”
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra (1999)
Tebal : 375 halaman
Kategori : fiksi, memoir
Jenis kover : soft cover
Kondisi : bekas, cukup baik
Harga : Rp. 150.000
Berat : 805 gram
Bahasa : Inggris
RATING
4.25 avg rating – 165 ratings
SINOPSIS
“Much more than a memoir of prison life. These are autobiographical confessions, meditations on death and fate and writing, harsh description of prison life and sudden, dreamy passages of intense lyrical beauty… Pramoedya speaks in a voice of startling immediacy and has managed to produce a haunting record of a great writer’s attempt to keep his imagination and his humanity alive under terrible conditions.”
-New York Times Book Review
“Plainly heroic”
-Washington Post
“It is in the essays on his family history and in the letters to his children, which he knew he would never receive, that the book becomes more than a political document: you can sense the writer working to keep himself sane.”
-The New Yorker